banner 846x362

Pasar Ratatotok Kehilangan Denyut Kehidupan, Sepih Bak Kota Mati, Pasca Tambang Ditutup

Mitra, TR – Tidak ada lagi keramaian seperti dahulu. Suara tawar-menawar yang biasanya mewarnai aktivitas Pasar Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara, kini semakin jarang terdengar.

Deretan lapak yang biasanya dipadati pembeli mulai terlihat lengang. Sebagian pedagang hanya duduk menunggu, berharap ada orang yang datang membeli dagangan mereka. Namun, waktu terus berjalan tanpa kepastian.

Pemandangan ini menjadi potret pilu kehidupan masyarakat Ratatotok setelah aktivitas tambang emas ditutup pada 4 Oktober 2026.

Penutupan tambang tersebut bukan hanya berdampak pada para pekerja tambang. Denyut ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada aktivitas pertambangan ikut melemah. Dampaknya terasa hingga ke pasar tradisional, warung makan, toko pakaian, dan pedagang kecil lainnya.

Pantauan media TeropongRakyat.com, Jumat (6/11/2026), memperlihatkan suasana Pasar Ratatotok yang jauh berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Pasar sayur dan Barito yang biasanya ramai dikunjungi masyarakat kini terlihat nyaris tanpa aktivitas pembeli.

Lorong-lorong pasar tampak lengang. Tidak banyak orang berlalu-lalang. Para pedagang hanya bisa menunggu di balik lapak masing-masing, sementara dagangan yang mereka siapkan belum tentu menghasilkan uang.

Situasi paling menyedihkan dialami pedagang sayur dan bahan kebutuhan sehari-hari. Sebagian terpaksa membuang dagangan karena tidak laku hingga membusuk.

Barang yang sebelumnya diharapkan menjadi sumber penghasilan keluarga justru berakhir menjadi sampah.

Bagi pedagang kecil, kondisi ini bukan sekadar kehilangan keuntungan. Mereka juga harus menghadapi kerugian modal yang semakin sulit dipulihkan.

Jerry Tawas, salah satu pedagang di Pasar Ratatotok, mengaku penutupan tambang emas sangat memengaruhi aktivitas jual beli di pasar.

Menurutnya, perubahan suasana pasar terasa sejak aktivitas pertambangan berhenti. Jumlah pembeli terus berkurang hingga membuat pendapatan pedagang merosot.

“Tambang sekarang sementara ditutup, pengarus sekali di pasar hampir tidak ada orang yang datang beli,” ujar Jery saat ditemui, Jumat (06/11/2026).

Jerry berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan perhatian terhadap kondisi ekonomi masyarakat Ratatotok.

Ia juga berharap aktivitas tambang dapat kembali dibuka agar masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilan dari sektor tersebut bisa kembali bekerja.

“Mungkin lebih bagus buka ulang, biar masyarakat ada penghasilan. Ini bulan depan sudah mau Natal orang-orang pasti butuh dana,” ungkapnya.

Harapan itu semakin terasa mendesak karena masyarakat mulai menghadapi kebutuhan menjelang Natal. Banyak keluarga membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, pendidikan, dan keperluan perayaan hari besar keagamaan.

Kesulitan serupa juga dirasakan Devlin, pemilik warung Barito di kawasan Pasar Ratatotok.

Ia mengaku pendapatannya menurun drastis karena pembeli semakin jarang datang. Padahal, selama ini aktivitas warungnya sangat bergantung pada perputaran uang masyarakat, terutama para pekerja tambang.

“Harapan kami tambang buka ulang, sekarang pasar sepih penghasilan nda ada. Jadi semua tergantung tambang, karena pekerja disini Mayori penambang,” tuturnya.

Kondisi tersebut memperlihatkan betapa kuatnya hubungan antara aktivitas pertambangan dengan kehidupan ekonomi masyarakat setempat.

Ketika pekerja tambang kehilangan sumber penghasilan, dampaknya langsung terasa pada pedagang kecil yang selama ini melayani kebutuhan mereka.

Uang yang biasanya berputar dari pekerja tambang ke pedagang, kemudian mengalir ke berbagai sektor usaha lainnya, kini semakin sulit ditemukan.

Dampak penutupan tambang juga menjalar ke pedagang pakaian dan pernak-pernik.

Kifly, salah satu pemilik toko pernak-pernik di Pasar Ratatotok, mengaku suasana tokonya kini sangat berbeda.

Sebelum tambang ditutup, kawasan pasar masih ramai hingga malam hari. Bahkan, menurutnya, pembeli terkadang masih berdatangan sampai pukul 22.00 WITA.

Namun, situasi tersebut kini berubah drastis.

“Pokoknya ini sepih sekali, biasnya jam bagini ramai bahkan sampai Lat malam jam 10 masih banyak orang. Tapi memang sejak tambang ditutup sepih sekali,” ungkap Kifly.

Kesaksian para pedagang tersebut menggambarkan perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan ekonomi masyarakat Ratatotok.

Bahkan, sebagian pemilik toko dan kios memilih menutup usahanya sementara karena sepinya pembeli. Mereka tidak lagi mampu menanggung biaya operasional ketika pendapatan terus menurun.

Sepinya Pasar Ratatotok bukan sekadar persoalan aktivitas perdagangan. Di balik lapak-lapak yang kosong, ada keluarga yang harus tetap memenuhi kebutuhan hidup.

Ada pedagang yang harus memikirkan uang belanja esok hari. Ada pemilik warung yang berharap dagangannya kembali laku. Ada pula pekerja yang kehilangan penghasilan dan harus mencari cara lain untuk menghidupi keluarganya.

Jika kondisi ini berlangsung lama, dampaknya dikhawatirkan semakin meluas.

Melemahnya ekonomi dapat meningkatkan angka pengangguran, memperbesar tekanan sosial, dan memunculkan kerawanan keamanan apabila tidak mendapat perhatian serta penanganan yang tepat.

Karena itu, masyarakat membutuhkan solusi yang tidak hanya berorientasi pada pemulihan ekonomi jangka pendek, tetapi juga memberikan kepastian terhadap keberlangsungan mata pencaharian mereka.

Kondisi yang terjadi di Ratatotok menjadi gambaran bahwa persoalan pertambangan memiliki dampak berantai terhadap kehidupan masyarakat.

Ketika satu sektor ekonomi berhenti, sektor-sektor kecil yang bergantung padanya ikut merasakan akibatnya.

Harapan masyarakat untuk kembali memperoleh penghasilan tentu perlu mendapat perhatian. Namun, setiap keputusan mengenai aktivitas pertambangan juga harus mempertimbangkan ketentuan hukum, keselamatan masyarakat, serta kelestarian lingkungan.

Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat menghadirkan langkah nyata untuk menjawab persoalan tersebut, termasuk membuka peluang pekerjaan alternatif dan membantu pelaku usaha kecil agar tetap bertahan.

Sebab, di tengah pasar yang semakin sunyi, ada banyak keluarga yang sedang menunggu kepastian.

Pasar Ratatotok mungkin masih berdiri seperti biasanya. Lapak-lapak masih ada, toko-toko masih berjejer, dan para pedagang masih berusaha bertahan.

Namun, tanpa pembeli dan tanpa perputaran ekonomi, pasar itu perlahan kehilangan denyut kehidupannya.

Bagi masyarakat kecil, yang mereka harapkan sebenarnya sederhana: bisa kembali bekerja, memperoleh penghasilan, dan membawa pulang sesuatu untuk keluarga di rumah.(One/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *