Sleman, TR – Gubernur D.I. Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X memberikan pesan penting untuk para wisudawan Politeknik Agraria STPN. Beliau menilai Indonesia sangat membutuhkan insan pertanahan Indonesia yang menguasai peta sekaligus memahami manusia di dalamnya. Pesan tersebut bertujuan agar lulusan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Sekretaris Daerah Provinsi DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti membacakan sambutan tersebut pada acara wisuda, Sabtu (05/09/2026). Beliau menekankan pentingnya penguasaan teknologi yang seimbang dengan rasa keadilan.
“Indonesia membutuhkan insan pertanahan yang mampu membaca peta sekaligus memahami manusia di dalam peta. Saudara perlu cakap menguasai teknologi, tetapi tetap bijak dalam menimbang rasa keadilan. Saudara perlu teguh menjalankan regulasi tetapi tetap arif membaca sejarah dan kebudayaan masyarakat,” pesan Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah Provinsi DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, saat wisuda Politeknik Agraria STPN, Sabtu (05/09/2026).
Sri Sultan menegaskan bahwa tanah bukan sekadar hamparan fisik belaka. Tanah merupakan bagian dari jati diri dan fondasi pemerintahan bangsa. Masyarakat membangun rumah dan memproduksi pangan di atas tanah. Tanah juga menjaga keberlanjutan peradaban sebagai Ibu Pertiwi.
Pengelolaan tanah wajib menyatu dengan nilai kebudayaan setempat. Masyarakat Jawa memegang teguh prinsip Hamemayu Hayuning Bawana untuk menjaga keindahan dunia. Prinsip ini menuntun pengelolaan tanah agar membawa kehidupan yang lebih adil.
Masyarakat Nusantara memiliki berbagai pandangan filosofis mengenai tanah. Masyarakat Minangkabau menerapkan prinsip Harta Pusaka Tinggi untuk tanah ulayat. Sementara itu, Bali menggunakan sistem subak lewat filosofi Tri Hita Karana.
Wilayah Indonesia Timur seperti Papua dan Maluku juga menjunjung tinggi hak ulayat. Mereka memandang tanah sebagai ruang hidup bersama milik kelompok adat. Keberagaman adat ini menjadi kekayaan penting dalam tata kelola pemerintahan.
“Keragaman ini adalah kekayaan tata kelola pemerintahan Indonesia. Regulasi perlu membacanya dengan jernih, kebijakan perlu menghormatinya dengan arif, teknologi perlu mengakomodasinya dengan presisi dan kepekaan,” tutur Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Ilmu pertanahan memegang posisi yang sangat strategis dalam masyarakat. Penguatan keamanan tenurial mendukung kesejahteraan warga dan kelestarian lingkungan. Perangkat kelembagaan harus mengubah kebijakan menjadi manfaat nyata secara langsung.
“Di sinilah ilmu pertanahan memperoleh kedudukan strategis. Ilmu pertanahan bekerja di antara ukuran dan makna, antara peta dan manusia, antara sertipikat dan juga martabat,” ungkap Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Pesan untuk Wisudawan Politeknik Agraria STPN
Para lulusan kelak akan mengolah banyak berkas pertanahan rutin. Setiap berkas memuat harapan besar dari masyarakat. Lulusan wajib memberikan pelayanan yang menjamin kepastian serta keadilan sosial.
Sri Sultan meminta para lulusan bekerja dengan sikap rendah hati. Pengukuran tanah harus membuka jalan menuju kepastian dan ketenteraman sosial. Insan pertanahan Indonesia siap membawa perubahan positif di dunia kerja.
“Dengan visi seperti itulah kita menaruh harapan besar kepada para wisudawan-wisudawati yang akan mengaplikasikan ilmunya di dunia kerja,” pungkasnya.(ATR/BPN)













