banner 846x362

Peneliti UPER Temukan Model Baru Pembuatan Biohidrokarbon dari Karet Alam

JAKARTA, TR – Peneliti Universitas Pertamina (UPER) mengukir prestasi baru dalam pengembangan energi terbarukan. Tim peneliti UPER berhasil menemukan model baru untuk menghasilkan biohidrokarbon dari karet alam secara lebih efisien.

Inovasi ini membuka peluang besar bagi Indonesia dalam mempercepat transisi energi nasional. Saat ini Indonesia mencatatkan diri sebagai produsen karet alam terbesar kedua di dunia. Produksi karet alam nasional bahkan mencapai angka sekitar 2,6 juta ton per tahun.

Pengembangan teknologi biohidrokarbon dari karet alam selama ini membutuhkan banyak uji coba. Proses trial and error tersebut memakan waktu yang cukup lama di laboratorium.

Dosen Program Studi Teknik Kimia UPER, Dr. Ir. Laksmi Dewi Kasmiarno, memimpin pengembangan model volatile-state kinetics. Model matematika ini mampu memprediksi hasil konversi karet alam menjadi biohidrokarbon secara tepat. Pendekatan baru ini efektif memangkas waktu dan biaya penelitian.

“Model ini memungkinkan kami memperkirakan jenis dan jumlah biohidrokarbon yang akan dihasilkan pada berbagai kondisi pirolisis sebelum melakukan banyak pengujian di laboratorium. Dengan tingkat kesesuaian yang sangat tinggi terhadap hasil eksperimen, pendekatan ini dapat membantu mengurangi proses trial and error sehingga pengembangan teknologi menjadi lebih efisien,” jelas Dr. Laksmi.

Tim peneliti memanfaatkan metode pirolisis untuk memproses karet alam. Pirolisis sendiri merupakan proses pemanasan bahan hayati tanpa oksigen untuk menghasilkan minyak dan gas.

Pemanasan karet alam berlangsung pada suhu 300 hingga 600 derajat Celsius. Proses ini memecah rantai penyusun karet menjadi senyawa sederhana dalam kurun waktu 30 menit.

“Pada proses pirolisis, karet alam dipanaskan pada suhu 300–600 derajat Celsius dalam kondisi minim oksigen selama sekitar 30 menit. Panas tersebut memecah rantai panjang penyusun karet menjadi senyawa yang lebih sederhana. Senyawa yang menguap kemudian didinginkan hingga menjadi minyak biohidrokarbon, sedangkan sisanya menjadi gas yang juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi. Dengan mengatur suhu dan waktu proses secara tepat, kami dapat mengoptimalkan pembentukan produk bernilai tinggi sekaligus meminimalkan limbah yang dihasilkan,” jelas Dr. Laksmi.

Hasil optimasi proses tersebut menunjukkan performa yang sangat luar biasa. Karakteristik biohidrokarbon dari karet alam ini sangat mirip dengan bahan bakar diesel komersial.

Produk cair hasil konversi ini juga mengandung berbagai senyawa bernilai ekonomi tinggi. Senyawa tersebut antara lain limonene, toluena, dan xilena yang sangat berguna bagi industri kimia.

“Biohidrokarbon yang kami hasilkan memiliki nilai kalor 43,8–45,3 MJ/kg, mendekati bahan bakar diesel komersial. Pada kondisi optimum, sekitar 84,5 persen hasil pirolisis berupa produk cair yang juga mengandung senyawa bernilai ekonomi, seperti limonene, toluena, dan xilena. Temuan ini menunjukkan bahwa karet alam tidak hanya berpotensi menjadi sumber energi terbarukan, tetapi juga bahan baku bagi industri kimia,” ujar Dr. Laksmi.

Apresiasi Pimpinan Universitas Pertamina

Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., menyambut bangga capaian riset ini. Beliau menilai hasil penelitian ini merupakan bukti nyata kontribusi kampus dalam mendukung ketahanan energi nasional.

Inovasi ini sekaligus memperkuat peran mahasiswa dan dosen UPER dalam menjawab tantangan masa depan. Kurikulum di UPER terus mendorong lahirnya solusi hijau berbasis riset dan pemanfaatan sumber daya lokal.

“Universitas Pertamina berkomitmen menghasilkan lulusan yang mampu menjawab tantangan industri melalui penguasaan sains, rekayasa, dan inovasi. Di Program Studi Teknik Kimia, mahasiswa dibekali kompetensi melalui peminatan Teknik Sistem Proses Kimia Berkelanjutan dan Rekayasa Energi serta Material Maju untuk Energi dan Pengembangan Proses, sehingga mampu mengembangkan solusi bernilai tambah dari sumber daya lokal. Penelitian ini menjadi contoh bagaimana pembelajaran dan riset dapat melahirkan inovasi yang mendukung ketahanan energi sekaligus pembangunan berkelanjutan,” tutup Prof. Djoko.(HUP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *