MANADO, TeropongRakyat.com — Rapat Koordinasi (Rakor) Hilirisasi Perkebunan se-Provinsi Sulawesi Utara diakhiri dengan penegasan bahwa penerapan good handling practice dan good manufacturing practice menjadi syarat mutlak agar produk pertanian Sulut mampu bersaing di pasar global. Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Sulut, Victor Mailangkay yang mewakili Gubernur Yulius Selvanus.
Menurut Victor, hilirisasi harus menjadi strategi utama dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Produk pertanian, katanya, tak boleh hanya berhenti pada penjualan hasil mentah, tetapi perlu ditingkatkan nilai tambahnya melalui diversifikasi, kemitraan dengan industri, perluasan pasar, hingga peningkatan mutu dan keamanan pangan.
“Ekspor komoditas perkebunan Sulut tahun 2024 mencapai Rp2,5 triliun, didominasi kelapa dan produk turunannya. Namun sekitar 20 ribu hektare lahan kelapa sudah tua dan perlu diremajakan. Hilirisasi menjadi kunci agar petani tidak hanya menjual bahan mentah,” tegas Victor.
Ia menambahkan, sektor perkebunan dengan total luas 403.539 hektare—didominasi kelapa, cengkih, pala, kakao, kopi, dan vanili—menjadi kekuatan utama Sulut. Ketersediaan pangan strategis di daerah ini, lanjutnya, tetap terjaga sehingga stok untuk kebutuhan masyarakat dipastikan aman.
Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengingatkan bahwa komoditas kelapa tengah booming di pasar dunia. Indonesia, kata dia, memiliki keunggulan iklim tropis yang tidak dimiliki banyak negara lain.
“Kelapa jangan dianggap enteng. Eropa tidak bisa tanam kelapa, China juga tidak bisa. Maka hilirisasi harus dilakukan di sini. Jangan lagi jual bahan mentah. Nilai tambahnya harus dinikmati masyarakat Sulawesi Utara,” ujar Amran.
Amran juga menyoroti potensi pala asal Sulut yang bernilai tinggi di pasar dunia. Harga pala di tingkat lokal Rp70 ribu per kilo, sedangkan di luar negeri bisa menembus Rp200 ribu. Karena itu, Kementan telah menyiapkan 15 ribu hektare untuk pengembangan, dan siap menambah bila diperlukan.
Tak hanya itu, Mentan menegaskan dukungan besar bagi Sulut dalam bentuk benih dan bibit untuk 41 ribu hektare perkebunan. “Ini bantuan terbesar sejak Indonesia merdeka. Presiden meminta agar hilirisasi dipercepat, termasuk program replanting dan pengembangan,” ungkapnya.
Menurut Amran, Sulawesi Utara punya peluang besar menjadi provinsi terdepan di Indonesia lewat sektor perkebunan, khususnya kelapa, pala, kopi, dan kakao. Jika potensi tersebut dikapitalisasi dari hulu hingga hilir, maka akan membuka lapangan kerja baru dan mengurangi pengangguran.
“Sulawesi Utara harus menjadi provinsi terdepan di Republik Indonesia. Mari bergerak bersama memanfaatkan potensi yang ada. Jika hilirisasi berjalan, maka kesejahteraan rakyat akan meningkat signifikan,” tandas Amran dalam Rakor di Kantor Gubernur Sulut, Manado, Jumat (12/9/25).
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, para bupati dan wakil bupati se-Sulawesi Utara serta pejabat eselon II Kementan.(Tim)
