Manado, TR – Pengurus Daerah Bhayangkari Sulawesi Utara memperingati Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-74 tahun 2026. Organisasi ini menggandeng Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) menggelar sosialisasi kesehatan. Kegiatan berfokus pada teknik Periksa Payudara Sendiri (Sadari) dan deteksi dini kanker payudara. Acara berlangsung di Mapolda Sulawesi Utara, Manado, pada Selasa (13/10/2026).
Ketua YKPI Linda Amalia Sari Gumelar memimpin langsung program edukasi kesehatan masyarakat ini. Kegiatan sosialisasi bertepatan dengan kampanye global bulan peduli kanker payudara internasional setiap Oktober. YKPI memilih Provinsi Sulawesi Utara sebagai pusat kegiatan edukasi tahunan pada 2026.
Pihak YKPI memberikan materi edukasi mengenai langkah pemeriksaan mandiri secara berkala. Teknik Sadari menjadi langkah paling terjangkau, sederhana, dan efektif mendeteksi benjolan. Kesadaran awal mampu menekan angka mortalitas akibat kanker payudara di Indonesia.
Para pengurus cabang Bhayangkari dari seluruh kabupaten dan kota hadir di lokasi. Mereka menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan informasi kesehatan yang akurat. YKPI sangat mengapresiasi semangat dan komitmen tinggi jajaran pengurus Bhayangkari Sulut.
Panitia menghadirkan dokter spesialis bedah onkologi dalam sesi pemaparan materi medis. Dokter menjelaskan penanganan kanker secara ilmiah dan membuka ruang diskusi interaktif. Peserta memanfaatkan sesi tanya jawab untuk berkonsultasi mengenai keluhan kesehatan.
“Ya ini sedang berlangsung dan nanti setelah penjelasan singkat oleh dokter bedah onkologi yang kami bawa, kemudian lanjut dengan tanya jawab. Biasanya yang kami dapatkan di beberapa daerah atau tempat, banyak sekali yang menjadi pertanyaan dari para peserta yang mungkin mereka simpan sendiri selama ini, tapi pada saat kesempatan ini berani untuk bertanya,” jelas Linda.
YKPI mencatat antusiasme luar biasa dari warga Sulawesi Utara selama dua hari. Sebelum ke Mapolda Sulut, YKPI mendatangi Persit Kartika Chandra Kirana Korem Manado. Tim YKPI juga menyambangi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.
“Kami melihat ya yang pertama responsnya sangat positif. Jadi kita sudah hari kedua ini ya Bu ya. Sangat baik sekali, banyak yang ingin tahu sampai kadang-kadang waktunya kurang karena keterbatasan waktu. Kemarin kita kan di dua tempat, pertama di Persit Kartika Chandra Kirana Korem Manado, kemudian selanjutnya sore ke Rumah Sakit Prof. Kandou, terus hari ini kami ke Bhayangkari. Responsnya luar biasa dan saya melihat bahwa kesadaran untuk sehat itu di perempuan-perempuan Sulawesi Utara itu sangat tinggi ya dan berani bicara,” tutur Linda.
Data Globocan 2024 mencatat ada 96.000 kasus baru kanker payudara di Indonesia. Sekitar 30 persen lebih dari jumlah kasus baru tersebut berakhir dengan kematian. Penanganan medis terlambat menjadi faktor utama tingginya angka kematian pasien.
“Kasus kanker payudara ini untuk Indonesia saja dari hasil Globocan 2024 itu ada 96.000 kasus baru. Jadi kita tidak bicara kasus lama yang sedang berlangsung yang sudah berobat ya, kasus barunya dari hasil Global Cancer International itu Indonesia itu sekitar 96.000, dan sekian puluh persennya itu 30 sekian persennya itu meninggal dunia ya. Jadi sangat disayangkan,” tegasnya.
Sebagai penyintas kanker payudara 30 tahun, Linda membagikan kisah perjuangan hidupnya. Penemuan stadium awal dan penanganan medis tepat menyelamatkan nyawa penderita kanker.
“Karena sebetulnya kanker payudara apabila ditemukan stadium awal… saya sendiri pernah terdiagnosis kanker payudara 30 tahun yang lalu. Alhamdulillah kita bisa tetap eksis, kita tetap bisa dampingin suami, kita bisa berkarier, kita bisa melihat anak dan cucu tumbuh dan berkembang ya. Jadi sebetulnya bukan satu hal yang sulit asal dilakukan kegiatan Sadari ini dan secara dini dan pengobatan secara medis apabila ada benjolan,” papar Linda.
Fasilitas Kesehatan Puskesmas dan Dukungan Keluarga
Pemerintah sudah menyediakan alat USG khusus payudara di berbagai fasilitas Puskesmas. RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado juga memiliki tiga dokter spesialis bedah onkologi. Masyarakat imbau memanfaatkan fasilitas kesehatan terdekat jika menemukan benjolan.
“Saya berharap akan lebih terbuka ya bagi anggota Bhayangkari apabila merasa ada benjolan, segeralah pergi berobat. Sekarang di Puskesmas-Puskesmas, pemerintah telah menyiapkan alat USG yang spesial untuk payudara dan sudah dilatih. Jadi bisa diperiksa datang ke Puskesmas, nanti apabila diharapkan bisa pergi harus dilakukan tindakan lanjut, di Rumah Sakit Prof. Kandou itu ada tiga bedah onkolog. Jadi saya kira di sini fasilitasnya sudah sangat baik dan perhatian pemerintah untuk ini juga sudah luar biasa,” imbaunya.
Dukungan moral dari keluarga dan suami memegang peranan sangat krusial selama pengobatan. Motif psikologis memperkuat mental pasien dalam menjalani masa pemulihan medis.
“Yang paling penting lagi support dari keluarga, terutama suami. Kadang-kadang ini menjadi kendala juga, karena belum tentu suami memberi support. Saya sebagai pasien merasakan, kalau tidak ada support dari suami dan anak, saya kira saya tidak bisa eksis masih bisa sampai sekarang ini bekerja ya. Sulit ya karena bicara payudara,” pungkasnya.
Pengurus YKPI Letkol Caj (K) Patris R.A. Rumbayan mengaku bangga atas terselenggaranya acara di tanah kelahirannya.
“Saya sebagai pengurus dari YKPI senang karena YKPI datang ke Sulawesi Utara yang kebetulan kampung halaman saya, supaya wanita-wanita Sulawesi Utara lebih sehat, lebih peduli dengan kesehatan diri sendiri,” ujarnya.
Wakil Ketua Bhayangkari Daerah Sulawesi Utara Ny. Lia Susetio menyampaikan apresiasi mendalam kepada YKPI.
“Kami mengucapkan terimakasih atas perhatian ibu meluangkan waktu mengajari kami mendeteksi secara dini semoga ini membawa kebaikan untuk seluruh anggota,” tandas Ny. Lia Susetio.(One/Red)













