Jakarta, TR – Pemerintah menyiapkan 18 proyek prioritas hilirisasi dan ketahanan energi nasional. Nilai investasi proyek strategis ini mencapai Rp618,13 triliun. Sektor ini mencakup minyak dan gas, petrokimia, hingga energi terbarukan.
Perguruan tinggi mengambil peran penting melalui pengembangan riset dan inovasi. Langkah ini menjawab kebutuhan industri sekaligus mendorong penciptaan nilai tambah.
Universitas Pertamina (UPER) mengambil peran strategis ini secara aktif. Kampus memperkuat orientasi riset menuju pemanfaatan yang lebih luas.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menempatkan research for value creation sebagai arah pengembangan.
“Kedekatan Universitas Pertamina dengan ekosistem industri energi memberikan peluang besar untuk membawa hasil penelitian lebih dekat pada penerapan. Kami ingin mendorong riset tidak berhenti pada publikasi, tetapi berkembang menjadi inovasi yang dapat diadopsi, dihilirisasi, dan menciptakan nilai bagi industri maupun masyarakat,” ungkap Prof. Ichsan di sela pelantikan Rektor Universitas Pertamina periode 2026–2031 pada 31 Juli 2026.
Prof. Ichsan mendorong pergeseran fokus dari publikasi biasa menuju research for value creation. Publikasi ilmiah tetap menjadi bagian yang sangat penting. Namun, kampus perlu mendorong hasil penelitian menuju adopsi dan hilirisasi inovasi.
“Universitas Pertamina memiliki posisi strategis karena berada dalam ekosistem industri energi nasional. Kami ingin menggeser paradigma dari research output menjadi research for value creation. Publikasi tetap menjadi bagian penting, tetapi hasil penelitian perlu dioptimalkan melalui adopsi riset, hilirisasi inovasi, dan kolaborasi global untuk memberikan dampak nyata bagi industri dan ketahanan energi nasional,” ujar Prof. Ichsan.
Kapasitas riset UPER menopang penuh arah kebijakan baru ini. Sejak berdiri hingga 2025, UPER menghasilkan lebih dari 1.200 penelitian dan 2.500 publikasi ilmiah. Kampus ini juga mencatat lebih dari 370 paten dan hak cipta.
UPER membangun kerja sama dengan 90 lebih mitra energi dan internasional. Jejaring luas ini menjadi modal utama untuk memperluas pemanfaatan hasil penelitian.
Fokus energi ini berjalan seiring dengan komitmen pembangunan berkelanjutan. UPER mengembangkan kajian melalui Sustainability Center untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Kajian fokus pada isu transisi menuju sistem energi berkelanjutan.
“Transisi energi bukan hanya persoalan perubahan sumber energi, tetapi juga membutuhkan penguasaan teknologi, inovasi, dan sumber daya manusia. Di sinilah perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui pendidikan dan riset yang mampu menghasilkan solusi bagi kebutuhan energi masa depan,” jelas Prof. Ichsan.
Pengembangan Energy Innovation Hub
UPER akan mendorong riset agar terhubung erat dengan kebutuhan industri. Kampus mengembangkan Energy Innovation Hub yang mempertemukan dosen, mahasiswa, dan industri. Ekosistem ini memiliki pipeline hilirisasi untuk mengarahkan hasil penelitian menuju komersialisasi.
“Hilirisasi membutuhkan kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi dan industri. Kami ingin kolaborasi tersebut bergerak lebih jauh menuju co-creation, sehingga persoalan nyata industri dapat menjadi bagian dari agenda riset dan hasil penelitian yang potensial memiliki jalur yang lebih jelas menuju implementasi dan komersialisasi,” tambah Prof. Ichsan.
Sebagai langkah awal, UPER memperluas riset bersama industri dan mitra internasional. Kampus memetakan hasil penelitian potensial untuk pengembangan lebih lanjut. UPER siap menyiapkan talenta adaptif guna mendukung transformasi sektor energi Indonesia.(HUP)













