Jakarta, TR – Potensi gempa megathrust di Selat Sunda memicu perhatian publik setelah laporan Metro TV pada 12 September 2026 menyoroti data BMKG dan BRIN. Skenario gempa bermagnitudo 8,9 dapat memicu tsunami yang mencapai pesisir utara Jakarta dalam waktu sekitar 2,5 jam dengan ketinggian gelombang sekitar 0,5 meter. Gambaran potensi ini menjadi dasar penting untuk menyiapkan langkah mitigasi sejak dini. Namun, pakar mengingatkan masyarakat agar memahami bahwa angka tersebut merupakan skenario ilmiah, bukan prediksi pasti waktu kejadian.
Pakar Komunikasi Risiko Kebencanaan Universitas Pertamina (UPER), Dr. Ir. Farah Mulyasari, menyoroti pentingnya penyampaian informasi kebencanaan yang tepat. Ia menjelaskan bahwa angka magnitudo tanpa konteks jelas dapat memicu kecemasan warga. Di sisi lain, warga yang merasa tinggal jauh dari pusat gempa justru berpotensi mengabaikan kesiapsiagaan. Oleh karena itu, penyampaian skenario bahaya harus terhubung langsung dengan kondisi wilayah dan tindakan nyata warga.
“Masyarakat cenderung merespons ancaman berdasarkan kedekatan spasial, sehingga diperlukan strategi komunikasi yang mengkalibrasi ulang pemahaman mereka terhadap bahaya,” ungkap Farah.
Farah menekankan bahwa istilah teknis kebencanaan harus berganti menjadi petunjuk praktis yang mudah warga pahami. Istilah rumit perlu berubah menjadi panduan mengenali jalur evakuasi, menyusun rencana komunikasi keluarga, dan memantau informasi resmi. Selain itu, masyarakat harus membedakan kajian potensi masa depan dengan peringatan dini bencana yang sedang berlangsung.
Maraknya konten dramatis di media sosial juga menuntut ketelitian masyarakat dalam menyaring berita. Banyak unggahan menyebarkan kembali dokumentasi bencana lama tanpa keterangan waktu yang benar.
“Warga perlu kritis terhadap foto atau video dramatis yang beredar dan pastikan visual tersebut memiliki konteks dan cap waktu terkini, bukan dokumentasi dari bencana masa lalu,” jelasnya.
Farah meminta masyarakat selalu memeriksa sumber berita melalui saluran resmi seperti BMKG, BNPB, dan BPBD sebelum membagikannya. Media massa juga memegang peran besar untuk menyertakan panduan tindakan nyata dalam setiap pemberitaan skenario bencana.
“Warga perlu kritis terhadap foto atau video dramatis yang beredar dan pastikan visual tersebut memiliki konteks dan cap waktu terkini, bukan dokumentasi dari bencana masa lalu,” jelas Farah.
Peran Perguruan Tinggi dalam Literasi Bencana
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menegaskan komitmen kampus dalam meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat. Kampus terus menghubungkan riset ilmiah dengan kebutuhan praktis warga di lapangan.
“Universitas Pertamina mendorong kolaborasi ilmu kebumian dan komunikasi untuk memperkuat literasi kebencanaan. Pemahaman tentang sumber dan potensi bahaya perlu diterjemahkan menjadi informasi yang membantu masyarakat mengenali risiko di sekitarnya serta memahami langkah kesiapsiagaan yang dapat dilakukan,” ujar Ichsan.(HUP)













