Manado, TeropongRakyat.com – Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, Wayan Toni Supriyanto, S.T., M.M.,mengungkapkan bahwa meskipun industri telekomunikasi di Indonesia telah berusia hampir 87 tahun, pemerataan konektivitas digital di seluruh wilayah Nusantara masih menjadi PR besar.
Pernyataan tersebut disampaikan Wayan usai menghadiri Forum Komunikasi Sinergi Pemerintah Daerah dan Industri dalam Akselerasi Infrastruktur Digital Wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) yang digelar di Wisma Negara Bumi Bringin, Manado, Kamis (13/11/2025).
“Kita sadari bahwa investasi yang sudah dilakukan oleh penyelenggara telekomunikasi sangat besar. Namun setelah hampir 87 tahun, kita masih belum bisa memenuhi komitmen konektivitas di seluruh Indonesia. Saat ini, coverage kita baru mencapai sekitar 8 persen di wilayah berpenghuni,” ujar Wayan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengembangan jaringan fiber optik nasional menjadi fokus utama pemerintah hingga tahun 2029, dengan target menjangkau 50 persen wilayah Indonesia, termasuk kawasan permukiman di daerah terpencil.
“Untuk fiber optik, kami menargetkan capaian 50 persen pada akhir 2029. Infrastruktur ini penting agar sinyal dan jaringan siber bisa menjangkau ke seluruh daerah-daerah pemukiman,” jelasnya.
Meski begitu, Wayan mengakui masih terdapat kesenjangan akses internet di sejumlah daerah. Berdasarkan data Komdigi, terdapat sekitar 3.000 desa di Indonesia yang belum memiliki sinyal sama sekali, serta lebih dari 2.200 desa yang sudah berpenghuni namun belum tersentuh layanan digital memadai.
“Masih ada PR. Kurang lebih 3.000 desa yang belum ada sinyalnya, dan sekitar 2.200 sekian desa sudah berpenghuni tapi belum terkoneksi secara optimal. Ini yang akan kami kejar bersama para pemangku kepentingan,” pungkasnya.(One/Red)













