banner 846x362

Alarm Hari Bumi: Pakar UPER Peringatkan Bahaya Gas Metana di Balik Krisis TPA Indonesia

JAKARTA, TR – Peringatan Hari Bumi pada 22 April lalu menjadi momen penting untuk melihat kondisi lingkungan kita. Kabar buruk datang dari laporan STOP Methane Project milik UCLA tahun 2025 yang mengungkap fakta pahit. Satelit internasional mendeteksi bahwa lokasi pembuangan sampah di Jakarta menjadi penyumbang emisi limbah atau gas metana terbesar kedua di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa krisis gas metana TPA Indonesia sedang berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan bumi.

Ir. I Wayan Koko Suryawan, Ph.D., yang merupakan pakar Teknik Lingkungan Universitas Pertamina (UPER), menyebut temuan ini sebagai alarm keras. Beliau menegaskan bahwa data satelit tersebut mencerminkan realitas yang tidak bisa kita abaikan begitu saja. Pasalnya, gas metana memiliki kekuatan memanaskan bumi hingga 80 kali lebih kuat daripada karbon dioksida. “Satu titik emisi TPA yang pekat di Jakarta bisa menyumbang pemanasan global setara dengan polusi dari satu juta mobil SUV dalam setahun,” ungkap Dr. Koko.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2025 turut memperparah situasi krisis gas metana TPA Indonesia ini. Dari total 56,63 juta ton sampah nasional setiap tahunnya, sebanyak 21,85% ternyata masih ditimbun secara terbuka atau open dumping. Oleh karena itu, pelepasan gas metana menjadi sangat pekat sehingga mudah terpantau oleh teknologi satelit luar negeri. Praktik pembuangan terbuka inilah yang memicu munculnya bom waktu iklim yang bisa meledak kapan saja.

Melalui riset terbarunya yang terbit di jurnal Q1 Ecological Indicators, Dr. Koko menawarkan cara untuk memutus rantai emisi limbah ini. Penelitian ini menyarankan adanya layanan pengelolaan sampah yang lebih adaptif dan langsung menyentuh sumbernya. Berdasarkan kajian terhadap 651 warga Jakarta, ia menemukan bahwa masyarakat sebenarnya sudah sadar akan pentingnya memilah sampah. Namun, aksi nyata mereka terhambat karena fasilitas pendukung dari pemerintah belum tersedia secara memadai di lapangan.

Dr. Koko menjelaskan bahwa Jakarta membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk setiap kelas ekonomi masyarakat. Warga di kawasan elit mungkin lebih cocok menggunakan teknologi Smart City dan sensor pengangkutan sampah digital yang modern. Sebaliknya, warga di pemukiman padat lebih membutuhkan kepastian jadwal pengangkutan sampah yang tepat waktu. Selain itu, pemerintah perlu mempercepat teknologi penangkapan gas metana di TPA Bantargebang untuk diubah menjadi energi listrik yang bermanfaat.

Komitmen Pendidikan untuk Lingkungan

Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, S.Si., M.Si., menyatakan bahwa UPER siap membantu mengatasi masalah ini. Sebagai institusi yang didirikan oleh PT Pertamina (Persero), UPER fokus menghadirkan riset terapan untuk menghentikan era pembuangan sampah terbuka.

“UPER berkomitmen menghadirkan riset terapan dan teknologi penangkapan metana untuk memastikan era open dumping segera berakhir,” pungkas Prof. Djoko untuk mendukung target pembangunan berkelanjutan.(Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *