Denpasar Bali, TeropongRakyat.com –
Di bawah langit negeri yang mestinya penuh harapan, sebuah jeritan lirih kembali menggema. Bukan pekik perlawanan bersenjata, melainkan suara batin rakyat ditumpahkan melalui kata-kata tajam yang ditulis oleh seniman dan pemikir lintas zaman, MeneerSam Sianata.
Judulnya sederhana, namun menghentak “NEGERI VAMPIRE.”
Dalam tulisannya, Sianata menggambarkan sebuah negeri yang kontras subur, kaya, gemah ripah loh jinawi, namun ironisnya dikuasai oleh vampire-vampire jahanam metafora bagi para penguasa rakus yang menggigit tanpa suara, menghisap tanpa jeda.
“Menggigit dan menghisap di antara pasal-pasal laknat, rakyat gagap dan tak mampu bernafas,” tulis Sianata.
Sebuah kritik pedas terhadap regulasi yang bukan menjadi sandaran keadilan, melainkan justru jerat yang membungkus rakyat hingga tinggal tulang.
Di tengah tanah yang mestinya makmur, rakyat justru kering kerontang diperas oleh aturan yang menumpuk kekayaan bagi segelintir elite. Sianata menyorot fenomena di mana hukum seringkali berdiri di sisi yang salah: memanjakan kuasa, meluruhkan hak rakyat.
Dalam catatannya, MeneerSam Sianata
seniman kontemporer Indonesia yang dikenal secara internasional karena pendekatan multidimensi dan inovasinya dalam seni ini menyebut bagaimana rakyat dikecilkan, dibodohkan, dan dihipnotis oleh dogma-dogma pragmatis.
“Ayat-ayat sesat, pasal-pasal menjerat,” tulisnya sebuah gambaran tentang bagaimana kekuasaan memelintir moral, agama, bahkan hukum, demi mempertebal pundi-pundi mereka.
Sementara itu, rakyat dipaksa hidup dalam lingkar kemiskinan, kebodohan, dan kesengsaraan. Janji kemerdekaan dari derita hanyalah ilusi yang ada justru keterperosokan ke dalam kenistaan dan ketidakberdayaan.
Sianata kemudian membawa pembaca pada potret yang lebih gelap: vampire-vampire itu bergerak tanpa bunyi, dari pelosok negeri hingga jantung kekuasaan. Mereka menghisap darah rakyat sambil berdansa dalam pesta pora menyerupai bangsawan Eropa mewah, megah, sekaligus memuakkan.
Mereka hadir ketika butuh suara, ramah ketika butuh legitimasi, dermawan ketika kamera menyorot. Namun hati mereka, kata Sianata, gelap. Pikirannya sesat. Tidak memiliki naluri merakyat, apalagi simpati.
Bumi, laut, hutan seluruh anugerah negeri tropis ini diselewengkan atas nama negara. Namun hasilnya tidak kembali kepada rakyat. Ia dialirkan ke pundi-pundi para penguasa, kroni, bahkan “rambut pirangnya,” sebuah simbol kekuasaan eksternal yang ikut menikmati.
“Yang penting senang. Yang penting menang. Soal rakyat, urusan Tuhan,” tulis Sianata, menyiratkan sebuah ironi yang kian sering terdengar dalam praktik kekuasaan hari ini.
Sianata menutup pesannya dengan peringatan keras jika rakyat hanya diam, bencana akan menjadi warisan turun-temurun. Vampire-vampire laknat itu akan terus berjaya, menggerogoti negeri Katulistiwa hingga ke akar generasinya.
Namun ia memberi secercah harapan,
Kita tidak boleh terus menjadi mangsa.
Kita harus bermetamorfosis menjadi Van Helsing, pemburu kegelapan, simbol keberanian rakyat untuk melawan ketidakadilan.
Tulisan ini bukan sekadar kritik ia adalah alarm keras. Ia mengguncang, menyadarkan, dan memanggil setiap jiwa yang masih peduli akan masa depan negeri. Bahwa kemakmuran bukanlah mimpi, namun sebuah hak yang harus dipertahankan dari predator kekuasaan.
Dan lewat metafora vampire, Sianata mengingatkan, jika rakyat tidak bangkit, kegelapan akan terus menghisap hingga tetes terakhir harapan bangsa.
Oleh : MeneerSam Sianata, Denpasar, Bali 11 Desember 2025
Editor : MarOne Dias













