Jakarta, TR – Sektor kimia memasok material bagi sekitar 95 persen produk manufaktur dunia berdasarkan data World Economic Forum 2025. Universitas Pertamina (UPER) menjawab tantangan tersebut dengan menggelar GreenLink: Greenovate Startup Accelerator Final and Demo Day. Acara ini berlangsung pada Jumat, 25 September 2026, di Auditorium MyPertamina, Universitas Pertamina.
UPER melangsungkan kegiatan ini melalui Global Green Chemistry Innovation and Network Programme (GGINP) Indonesia. Program tersebut menjalin kerja sama resmi dengan Yale University dan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO).
Kegiatan GreenLink mempertemukan pelaku usaha rintisan dengan industri, investor, pemerintah, akademisi, dan mitra internasional. Pertemuan ini bertujuan membuka peluang pengembangan bisnis sekaligus mempercepat penerapan inovasi kimia hijau dalam praktik industri nasional.
Project Director GGINP Indonesia sekaligus Dosen Teknik Elektro Universitas Pertamina, Ir. Teuku Muhammad Roffi, Ph.D., menjelaskan bahwa Greenovate Startup Accelerator mendorong startup memperkuat teknologi, kesiapan bisnis, dan penerapan prinsip kimia hijau yang lebih efisien dan berkelanjutan.
“Pada tahun ini, Greenovate Startup Accelerator dirancang untuk membantu startup memperkuat inovasi berbasis kimia hijau sekaligus kapasitas pengembangan usahanya. Terdapat 130 startup yang mendaftar. Setelah melalui seleksi administrasi dan pre-bootcamp, terpilih 11 peserta yang melanjutkan ke tahap final dan demo day,” jelas Roffi.
Sebelas startup peserta final meliputi Aither, Angphot, Blue Forests, Econella, Fure, Mustav & Co., Organic Culture, Satuplatform, STB Pellet, Tarunira, dan Zona Farm. Seluruh peserta mengembangkan solusi serta model bisnis untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan merespons kebutuhan industri yang semakin mengarah pada praktik berkelanjutan.
Director of Global Green Chemistry Accelerator Program, Center for Green Chemistry and Green Engineering at Yale University, Onyeka Obiocha, menilai startup memiliki posisi strategis dalam mempercepat transformasi menuju industri yang lebih berkelanjutan.
“Startup memiliki kemampuan untuk bergerak cepat dalam mengembangkan pendekatan baru guna menjawab berbagai tantangan industri. Hal tersebut menjadikan startup sebagai salah satu kekuatan penting dalam inovasi kimia hijau, termasuk melalui pengembangan material, produk, dan proses industri yang lebih efektif serta berkelanjutan,” ujar Onyeka.
Chief Technical Advisor United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), Salil Dutt, M.Tech., MBA, menambahkan pandangannya terkait kontribusi inovasi ini. Menurutnya, proses tersebut perlu dukungan akses terhadap proyek percontohan dan demonstrasi, kemitraan dengan industri, pembiayaan, penguatan kapasitas teknis dan bisnis, serta kerangka regulasi yang mendukung.
“Inovasi kimia hijau dapat berkontribusi terhadap transformasi industri melalui pengembangan solusi yang meningkatkan efisiensi sumber daya, mengurangi penggunaan bahan berbahaya, meminimalkan limbah, sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru,” kata Salil Dutt.
Komitmen Kampus Bisnis dan Teknologi Berkelanjutan
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menegaskan bahwa penyelenggaraan GreenLink sejalan dengan positioning UPER sebagai kampus bisnis dan teknologi yang berorientasi pada keberlanjutan.
“Penyelenggaraan GreenLink menjadi bagian dari upaya Universitas Pertamina dalam memperkuat perannya sebagai penghubung antara pendidikan, riset, inovasi, dan kebutuhan industri. GreenLink diharapkan tidak hanya menjadi forum pertemuan, tetapi juga mampu mendorong lahirnya wirausaha muda dan inovasi yang dapat mendukung transformasi industri berkelanjutan,” tutup Prof. Ichsan.(HUP)













