JAKARTA, TR – Dua mahasiswa Universitas Pertamina (UPER) berhasil menciptakan alat pantau mangrove berbasis teknologi modern untuk menjaga kawasan pesisir Indonesia. Kehadiran teknologi monitoring pesisir ini menjadi solusi konkret di tengah kondisi lingkungan yang semakin kritis. Berkat inovasi tersebut, mereka sukses meraih Silver Medal dalam ajang Naturaco Riset “Malang Edufest” 2026 pada 23–24 Mei 2026 kemarin.
Indonesia saat ini memiliki garis pantai sepanjang 108.000 kilometer. Namun, benteng alami pesisir ini sedang berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Sedikitnya 1,8 juta hektare kawasan pesisir Indonesia kini berstatus kritis akibat alih fungsi lahan, abrasi, dan pencemaran limbah. Oleh karena itu, wilayah tersebut memerlukan rehabilitasi yang cepat dan terukur.
Selama ini, upaya restorasi skala besar sering kali terkendala oleh sulitnya memantau kesehatan bibit secara konsisten. Merespons masalah tersebut, Muzaki Ahmad Fathir (Ilmu Komputer) dan Muhammad Hasyim Hudoyo (Teknik Lingkungan) berkolaborasi menciptakan alat bernama MOPI (Monitoring of Mangrove Plantation Indicator). Kehadiran alat pantau mangrove digital ini resmi mengubah pola pengawasan manual yang lambat menjadi sistem digital presisi.
“Selama ini, pemantauan kondisi kawasan mangrove dilakukan secara manual dan sporadis, sehingga sulit mendeteksi perubahan kualitas lingkungan secara dini. MoPi lahir dari keyakinan kami bahwa teknologi seharusnya hadir tidak hanya untuk industri, tetapi juga untuk alam,” ungkap Hasyim.
Secara teknis, MoPi bekerja dengan memantau tingkat keasaman air (pH) dan kelembapan tanah. Data dari sensor kemudian diolah oleh perangkat mikrokontroler sebagai pusat pengendali alat. Selanjutnya, sistem mengirimkan data secara nirkabel melalui internet ke aplikasi ponsel secara real-time.
“Karena datanya dikirim secara nirkabel, alat ini tetap dapat digunakan bahkan di kawasan mangrove yang terpencil dan sulit dijangkau,” ujar Hasyim menambahkan.
Prestasi gemilang di tingkat nasional ini menjadi bukti keberhasilan kolaborasi lintas disiplin ilmu di kampus. Dua mahasiswa tersebut mampu menyisihkan lebih dari 100 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Keunggulan fitur MoPi seperti Home, Dashboard Monitoring, hingga Mapping System menjadi nilai tambah yang memikat para juri.
Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Djoko Triyono, M.Si.,
Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Djoko Triyono, M.Si., menyatakan rasa bangganya atas pencapaian ini. Pihak kampus memang terus mendorong pendekatan pembelajaran lintas disiplin untuk menyelesaikan masalah lingkungan dan transisi energi.
“Di Universitas Pertamina, mahasiswa dibiasakan bekerja lintas disiplin melalui berbagai proyek kolaboratif, termasuk capstone project dan proyek multidisiplin. Harapannya, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu melihat keterkaitan antara teknologi, lingkungan, dan tantangan pembangunan berkelanjutan. Inovasi seperti MoPi menjadi contoh bagaimana kolaborasi tersebut dapat melahirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Prof. Djoko.(HUP)
