banner 846x362

Reforma Agraria Desa Soso Perkuat Peran Petani Perempuan demi Kesejahteraan

Blitar, TR – Program Reforma Agraria Desa Soso terbukti memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat, terutama para petani perempuan. Redistribusi lahan ini bukan sekadar urusan legalitas formal, melainkan simbol harapan baru bagi masa depan keluarga di Kabupaten Blitar. Kehadiran negara melalui Reforma Agraria Desa Soso memastikan akses produktif bagi kaum perempuan agar lebih berdaya secara ekonomi.

Dahulu, para petani di wilayah ini harus menghadapi konflik agraria yang sangat melelahkan. Patma (55), seorang petani lokal, mengenang masa sulit saat ia harus berhadapan dengan pihak keamanan perusahaan pada tahun 2012. Ia merasa was-was setiap kali ingin menanam komoditas di lahan yang menjadi sengketa tersebut.

“Dulu kalau mau nanam itu takut. Tapi kalau tidak nanam, gimana kita butuh makan,” ucap Patma saat menceritakan pengalaman pahitnya.

Kondisi berubah drastis ketika Kementerian ATR/BPN menjalankan program Reforma Agraria Desa Soso pada tahun 2022. Kantor Pertanahan Kabupaten Blitar berhasil menerbitkan sertipikat redistribusi tanah seluas 83,85 hektare untuk 528 keluarga. Langkah ini memberikan kepastian hukum tanah yang selama ini menjadi impian besar bagi warga setempat.

“Sekarang, setelah Reforma Agraria kan sudah diredistribusi tanahnya, ya pasti lebih aman, lebih tenang,” terang Patma dengan nada lega.

Petani perempuan lainnya, Indra (32), juga merasakan kebanggaan luar biasa setelah menerima sertipikat atas nama sendiri. Selain merasa lebih percaya diri, ia kini lebih leluasa dalam merencanakan rotasi tanaman di kebunnya. Kepastian tersebut mendorong petani untuk bekerja sama dengan pihak swasta guna meningkatkan produktivitas hasil panen.

“Apalagi sertipikat sudah atas nama sendiri. Jadi kan kita merasa bangga, lebih percaya diri,” tutur Indra dengan penuh semangat.

Kolaborasi Strategis dan Masa Depan Petani Perempuan

Saat ini, warga mengoptimalkan lahan mereka dengan menanam jagung unggul melalui kemitraan strategis. Hasilnya pun meningkat tajam, dari sebelumnya hanya meraup 4 juta rupiah, kini melonjak hingga 9 juta rupiah per masa panen. Keberhasilan Reforma Agraria Desa Soso ini akhirnya menciptakan kemandirian bagi perempuan sebagai penopang utama ekonomi keluarga. (GE/JR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *