banner 846x362

Menteri Nusron Dorong Santri Jadi Pelaksana Kebijakan di Bidang STEM

CIREBON, TR – Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid, mengajak santri menjadi pelaksana kebijakan di bidang STEM untuk memperkuat fondasi pembangunan nasional. Beliau menegaskan bahwa santri memiliki potensi besar untuk menjadi pelaksana kebijakan di bidang STEM serta pengambil keputusan strategis demi kemajuan bangsa Indonesia di masa depan.

Saat mengunjungi Pondok Pesantren Al-Bahjah pada Sabtu (18/04/2026), Menteri Nusron memberikan motivasi mendalam kepada para siswa kelas XII. Beliau menjelaskan konsep hikmatal hukama atau kader pelaksana kebijakan negara yang bertugas di berbagai sektor pemerintahan. Menurutnya, peran teknokrat dan birokrat sangat penting dalam menentukan arah pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Selanjutnya, beliau menyatakan bahwa kontribusi nyata bagi negara tidak hanya terbatas pada jalur ulama semata. “Kalau ingin berkontribusi bagi bangsa dan negara, selain dikader sebagai ulama, Adik-Adik sekalian bisa jadi hikmatal hukama atau kader pelaksana kebijakan,” ujar Menteri Nusron di hadapan pengasuh LPD Al-Bahjah, Buya Yahya.

Menteri Nusron menekankan bahwa kekuatan sebuah negara sangat bergantung pada penguasaan bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika. Beliau mengambil contoh keberhasilan Iran yang mampu bertahan dari tekanan global karena kemandirian teknologi serta swasembada pangan. Oleh karena itu, beliau mendorong santri menguasai pelaksana kebijakan di bidang STEM melalui pendidikan tinggi yang relevan.
Selain itu, beliau memaparkan sepuluh sektor penting yang membutuhkan kehadiran kader ahli dari kalangan pesantren.

Sektor tersebut meliputi pertahanan, keuangan, pangan, hingga manufaktur yang menjadi kunci kemandirian bangsa. Ia menilai penguasaan sektor strategis seperti geologi dan teknologi energi akan membawa Indonesia menuju kedaulatan yang sejati.

Harapan Besar untuk Generasi Emas Indonesia

Menutup sambutannya, Menteri Nusron mengingatkan bahwa masa depan Indonesia berada sepenuhnya di pundak generasi muda saat ini. Beliau optimis bahwa lulusan pesantren mampu bersaing dan memimpin saat Indonesia memasuki usia emas 100 tahun nantinya. Maka dari itu, para santri harus mempersiapkan diri sejak dini dengan ilmu pengetahuan yang mumpuni.

“Jangan ragu, negara ini membutuhkan para santri. Pemuda hari ini adalah pemimpin pada masa yang akan datang,” pungkasnya dengan penuh semangat. Dengan bekal spiritual dan intelektual, santri diharapkan mampu membawa perubahan besar bagi kemajuan tanah air di kancah internasional.(ATR/BPN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *