banner 846x362

Strategi Swasembada Energi Prabowo Jadi Solusi Hadapi Geopolitik Dunia

Manado, TR – Pemerintah mengambil langkah berani dengan mengalihkan impor minyak dan gas bumi dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. Pakar ekonomi Universitas Negeri Manado, Dr. Robert R. Winerungan, menilai langkah swasembada energi Prabowo ini sangat tepat untuk menjaga stabilitas nasional.

Kebijakan kemandirian energi nasional tersebut muncul sebagai respons atas ketegangan di Selat Hormuz yang mengancam jalur pasokan minyak dunia saat ini.

Robert menjelaskan bahwa Amerika Serikat masih mendominasi ekonomi dan sumber daya alam global meskipun cadangannya mulai menurun. Menurutnya, kesepakatan yang Presiden Prabowo jalin merupakan langkah strategis untuk mengamankan stok dalam negeri. Penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga BBM dunia karena biaya logistik yang membengkak akibat rute alternatif yang lebih jauh.

“Jujur kan Amerika masih boleh dikata (cadangan migas) memang sudah agak menurun, tapi paling tidak masih didominasi, ekonomi masih didominasi oleh Amerika. Termasuk sumber daya alam, sumber daya semuanya masih ada di sana. China oke, tapi tetap kita masih banyak mengandalkan Amerika sekarang ini. Jadi tepat lah kalau Presiden Prabowo menjalin agreement ya,” ujar Robert di Manado, Rabu (4/3/2026).

Pakar energi Unima, Reynaldo J. Saliki, menambahkan bahwa pengalihan ini menciptakan diversifikasi sumber energi yang sehat bagi Indonesia. Langkah tersebut mengurangi risiko ketergantungan akut pada satu wilayah konflik saja. Reynaldo menegaskan bahwa program swasembada energi Prabowo yang termuat dalam Asta Cita sangat krusial untuk menjawab tantangan transisi energi dan ketidakpastian harga global.

“Dalam situasi konflik geopolitik seperti sekarang, harga minyak tidak stabil, ada transisi energi, dan juga ketergantungan impor, program swasembada energi justru menjadi semakin penting,” ungkap Reynaldo.

Efisiensi Anggaran dan Keunggulan Strategis Asta Cita

Senada dengan hal itu, Rektor Universitas Sariputra Indonesia Tomohon, Anggela A. Adam, menyoroti efisiensi dari kebijakan baru ini. Ia membandingkan kerugian masa lalu saat Indonesia terlalu bergantung pada Singapura yang tidak memiliki sumber daya alam sendiri. Anggela menilai visi kedaulatan energi ini bukan sekadar wacana, melainkan rencana matang yang melibatkan pembangunan kilang Balikpapan dan cadangan energi nasional.

“Ini strategi yang tepat dari Pak Prabowo. Karena sempat tadi saya sampaikan bahwa sebenarnya kita itu, saya sampaikan rugi besar karena kita mengandalkan Singapura. Bertahun-tahun ke Singapura. Padahal Singapura itu bukan ada sumber daya alamnya, bukan ada minyaknya. Mereka juga impor ke negara lain dan mereka up harganya dari industri. Nah itu sebenarnya jauh lebih rugi biayanya daripada kita ke Amerika Serikat,” papar Anggela.(Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *