banner 846x362

Miris ! Potret Buram Pendidikan, Sekolah Darurat di Sulawesi Utara Masih Berdiri Setelah 8 Dekade Kemerdekaan

Minahasa Utara, TeropongRakyat.com – Sungguh ironis, di tengah perayaan 80 tahun Indonesia merdeka, masih ada sekolah darurat yang jauh dari kata layak di pelosok negeri. Potret memilukan itu terlihat di SD Negeri Airbanua Kelas Jauh, yang terletak di Desa Wawonian, Pulau Talise, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Bangunan sekolah yang seharusnya menjadi tempat mencetak generasi penerus bangsa, justru berdiri rapuh tanpa fondasi. Dindingnya hanya dari tripleks setengah badan, atap seng bekas, lantai tanah, serta tiang kayu bekas seadanya. Bangunan berukuran sekitar 5×10 meter dipetak menjadi enam kelas dan satu ruang guru, semuanya menyatu dalam satu bangunan sempit.

Lebih memilukan, anak-anak yang berjumlah 38 orang belajar dengan pakaian seadanya, sebagian bahkan hanya memakai sandal jepit. Ketika hujan turun, lantai tanah berubah becek.

Potret : belajar mengajar dan kondisi bagian dalam sekolah darurat Desa Wawonian.

Untuk sampai di sekolah darurat ini, para murid harus menempuh perjalanan terjal sejauh satu kilometer, melewati bukit berbatu, kebun, sungai kecil, dan pesisir pantai.

Galeri foto : Anak-anak melewati Jalan terjal berbatu, melewati anak sungai dan tepi pantai saat pergi dan pulang sekolah.

Meski demikian, semangat belajar anak-anak Desa Wawonian tetap menyala. Senyum mereka tidak pernah luntur meski kondisi sekolah jauh dari kata layak.

Foto : kondisi ruang kelas dan ruang guru sekolah darurat Wawonian.

Sekolah ini dibangun pada akhir Juli 2025 lalu, hanya dalam waktu delapan hari melalui gotong royong orang tua murid dan masyarakat setempat.

Foto : Bagian depan sekolah, dan foto bersama orang tua murid dan masyarakat.

Kepala SDN Airbanua, Esli Deni Sasongke, mengaku sekolah darurat itu lahir dari keprihatinan mendalam.

“Sejak 2020 anak-anak harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer ke sekolah induk, jadi pulang pergi bisa enam kilometer. Anak-anak sering kelelahan. Karena itu, atas permintaan orang tua, kami membangun sekolah darurat ini,” ungkap Esli, Sabtu (23/8/2025).

Bahan bangunan sekolah pun sebagian besar berasal dari sisa-sisa material rehabilitasi sekolah induk. Seng, tripleks, dan balok bekas diangkut ke Desa Wawonian, sisanya disumbangkan oleh masyarakat dengan swadaya.

Seorang warga, Amor Norman, menuturkan bahwa sebelumnya sekolah permanen pernah dibangun di dekat kampung, namun musibah kebakaran membuat bangunan itu hilang. Sejak saat itu, warga berinisiatif mendirikan sekolah darurat.

“Bangunan ini murni gotong royong. Dalam waktu delapan hari selesai dibangun untuk anak-anak kami. Kami hanya ingin anak-anak tetap bersekolah,” ujarnya.

Orang tua murid dan masyarakat Desa Wawonian berharap pemerintah segera turun tangan memberi perhatian serius.

“Kami ingin anak-anak kami mendapat pendidikan layak demi masa depan mereka. Saat ini kami bahkan masih berusaha membuat sumur bor dan penerangan listrik dengan cara kami sendiri. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah Kabupaten Minahasa Utara maupun Provinsi Sulawesi Utara,” harap Amor.

Delapan dekade setelah Indonesia merdeka, kisah sekolah darurat di Pulau Talise ini menjadi tamparan keras, potret buram pendidikan dasar sebagai hak anak bangsa masih belum sepenuhnya merata. Harapan masyarakat sederhana, agar negara benar-benar hadir memastikan setiap anak Indonesia bisa belajar di ruang kelas yang layak.(One/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *