banner 846x362

Aktivitas Erupsi Anak Krakatau Mulai Menurun, Pakar UPER Imbau Masyarakat Tetap Waspada

Jakarta, TR – Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Selasa (8/9) pagi setelah aktivitas vulkaniknya sempat menunjukkan tren penurunan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat penurunan terjadi usai gunung mengalami erupsi menerus selama 25 jam. Status gunung saat ini masih berada di Level III (Siaga). Masyarakat di wilayah terdampak harus terus meningkatkan kewaspadaan.

Dosen Teknik Geofisika sekaligus Pakar Kebumian Universitas Pertamina (UPER), Iktri Madrinovella, M.Si. memberikan tanggapannya terkait fenomena ini.

“Berdasarkan pemantauan PVMBG melalui pengamatan visual, data kegempaan, dan amplitudo RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement), aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada tingkat erupsi yang relatif ringan. Meski letusan kecil cenderung berdampak lebih terlokalisasi, kondisi tersebut bukan berarti bebas dari risiko. Masih terdapat potensi letusan susulan, hujan abu vulkanik, aliran lava, dan bahaya lainnya yang dampaknya dapat menjangkau wilayah lebih luas,” ungkap Iktri Madrinovella.

Iktri menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik ini termasuk erupsi Strombolian. Karakteristik erupsi ini memiliki ledakan relatif ringan, magma encer, dan pelepasan gas berkala. Meski ringan, sebaran abu halus tetap bisa menjangkau area yang jauh.

Angin membawa abu vulkanik dengan kecepatan 10–20 knot atau sekitar 18–37 kilometer per jam. Abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan menjangkau wilayah Jabodetabek serta Jawa Barat. Musim kemarau panjang turut memperluas jangkauan abu tersebut. Udara kering membuat abu bertahan lebih lama di atmosfer.

Selain abu vulkanik, masyarakat perlu mewaspadai potensi tsunami vulkanik. Lokasi gunung di tengah laut menyimpan risiko longsoran tubuh gunung. Peristiwa longsoran pernah memicu tsunami besar di Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu.

Para ahli memantau ketidakstabilan tubuh gunung menggunakan sejumlah indikator utama. Indikator tersebut mencakup peningkatan kegempaan, perubahan bentuk gunung lewat tiltmeter dan GPS, serta kestabilan lereng. Tide gauge dan sensor tsunami juga aktif mendeteksi perubahan muka air laut.

Iktri meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi liar tanpa verifikasi.

“Mengingat Gunung Anak Krakatau memiliki riwayat bencana penyerta, masyarakat perlu mencermati perkembangan aktivitasnya tanpa mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Informasi resmi dapat diperoleh melalui kanal PVMBG, BMKG, BNPB atau BPBD, serta media yang kredibel. Dengan mengandalkan sumber tepercaya, masyarakat dapat tetap tenang sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap berbagai potensi bahaya,” jelas Iktri.

Peran Edukasi Kebencanaan Universitas Pertamina

Universitas Pertamina terus berkomitmen membekali mahasiswa dengan ilmu kebumian. Mahasiswa belajar menganalisis gejala alam dan menyampaikan informasi ilmiah kepada publik secara tepat.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra menegaskan peran penting kurikulum kampus.

“Melalui mata kuliah seperti Seismologi, Geodinamika, serta Pengolahan dan Analisis Sinyal Geofisika, mahasiswa mempelajari proses kebumian dan mengolah data untuk memahami berbagai gejala alam. Pembelajaran tersebut dilengkapi dengan mata kuliah Penglibatan Publik untuk Proyek Sains dan Teknologi agar mahasiswa mampu menyampaikan hasil kajian ilmiah secara tepat dan mudah dipahami masyarakat. Kompetensi ini diperlukan untuk mendukung literasi dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana,” ujar Ichsan Setya Putra.(HUP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *