Universitas Pertamina Cetak Lulusan Lintas Disiplin untuk Hadapi Gejolak Energi Global

JAKARTA, TR – Gejolak energi global yang dipicu dinamika geopolitik dunia mendorong Indonesia memperkuat ketahanan energi nasional. Di tengah ketergantungan pada energi fosil yang masih tinggi, kebutuhan menghadirkan sumber daya manusia berkemampuan lintas disiplin kini menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan transisi energi berkelanjutan.

Menjawab kebutuhan itu, Universitas Pertamina menyiapkan lulusan yang menguasai bidang teknik sekaligus memahami aspek sosial. Strategi ini menjadi bagian dari upaya menghadapi perubahan industri energi nasional dan global yang bergerak semakin cepat.

Baca juga: https://teropongrakyat.com/universitas-pertamina-solusi-kota-hijau-transisi-energi/

Pesan itu mengemuka dalam Sidang Terbuka Wisuda XIV Universitas Pertamina di Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Senin (25/5).

Ketidakpastian pasokan energi dunia dan fluktuasi harga minyak mentah masih memberi tekanan terhadap ketahanan energi nasional. Kondisi itu menuntut Indonesia memperkuat langkah diversifikasi energi sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih.

Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero) sekaligus perwakilan Dewan Pembina Pertamina Foundation, Erry Sugiharto, menegaskan bahwa transformasi energi membutuhkan kolaborasi lintas bidang.

“Transformasi bauran energi menuju energi bersih dan rendah karbon tidak cukup jika hanya dijawab oleh kecanggihan teknologi. Diperlukan kombinasi keahlian (skill kombinasi) yang kuat antara lulusan teknik dan lulusan sosial,” tegas Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero) sekaligus perwakilan Dewan Pembina Pertamina Foundation, Erry Sugiharto, dalam Sidang Terbuka Wisuda XIV Universitas Pertamina di Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (25/5).

Erry menilai masa depan energi menuntut keterlibatan berbagai disiplin ilmu secara bersamaan. Menurut dia, lulusan teknik dan sosial harus saling melengkapi agar transisi energi berjalan efektif dan diterima masyarakat luas.

“Lulusan teknik berfokus pada inovasi dekarbonisasi dan sistem energi masa depan, sementara lulusan sosial krusial dalam menyusun kebijakan adil, membangun narasi publik, serta memastikan transisi energi diterima masyarakat. Tanpa kolaborasi multidisiplin ini, transformasi energi tidak akan optimal,” ungkap Erry.

Kebutuhan talenta lintas disiplin semakin besar seiring berkembangnya industri hijau. Proyeksi World Economic Forum memperkirakan sektor ini membuka jutaan peluang kerja baru hingga 2030.

Namun, peluang tersebut masih dihadapkan pada tantangan kesenjangan kompetensi. Banyak talenta muda dinilai belum memiliki green skills yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.

Ketua LLDikti Wilayah III, Henri Togar Hasiholan Tambunan, menegaskan perguruan tinggi harus mampu menyiapkan lulusan yang adaptif dan siap menghadapi perubahan.

“Kemampuan menyesuaikan diri, bekerja sama, serta berpikir kritis menjadi kunci utama menghadapi perkembangan teknologi dan dinamika industri. Para lulusan Universitas Pertamina sendiri telah dibekali pengalaman, teknologi, sertifikasi, riset, dan kolaborasi industri sebagai modal berharga untuk memasuki dunia profesional,” ujar Dr. Henri.

Ia menambahkan lulusan perguruan tinggi juga harus tampil sebagai pionir keberlanjutan dan ikut mendukung target net zero emission Indonesia.

Menanggapi kebutuhan tersebut, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Djoko Triyono, mengatakan kampus terus menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri.

Universitas Pertamina menghadirkan pembelajaran berbasis teknologi digital, transisi energi, dan dekarbonisasi bersama Pertamina Group. Langkah ini dilakukan agar lulusan siap memasuki dunia kerja.

Pada wisuda ke-14 tahun ini, Universitas Pertamina melepas 223 wisudawan. Sebanyak 46,64 persen lulus dengan predikat Sangat Memuaskan, sementara 33,18 persen meraih predikat Pujian atau Cumlaude.

Menurut Prof. Djoko, kampus mendorong lahirnya lulusan multitalenta atau The Renaissance Figure melalui falsafah Sarjana Sujana.

“Predikat ‘Sarjana’ menandai penguasaan sains dan teknologi, namun gelar akademik ini baru sebuah awal. Falsafah ‘Sujana’ melengkapinya dengan kekuatan kompas moral agar ilmu para lulusan yang memiliki kombinasi keahlian adaptif lintas disiplin ini mampu menjadi jembatan kebaikan yang tulus serta inklusif bagi masyarakat,” tutur Prof. Djoko.

Dengan pendekatan itu, Universitas Pertamina menargetkan lulusan mampu menjawab tantangan gejolak energi global sekaligus menjadi bagian penting dalam mendorong masa depan energi berkelanjutan di Indonesia.(HUP)