TAHUNA, TR – Pertambahan kasus HIV di Sangihe dari tahun ke tahun mengalami tren peningkatan. Lonjakan ini menjadi tanda awas bagi seluruh masyarakat. Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe mencatat jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Sangihe yang diobati kini mencapai angka 86 kasus hingga Maret 2026. Angka tersebut menunjukkan kenaikan yang signifikan daripada tahun sebelumnya.
Sebelumnya, akumulasi pasien yang menjalani pengobatan pada tahun 2025 adalah sebanyak 77 kasus. Namun, angka tersebut bertambah sembilan kasus baru hanya dalam waktu singkat. Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, memberikan penjelasan resmi mengenai fenomena ini. Beliau menyatakan bahwa peningkatan angka temuan ini berkaitan erat dengan program pemeriksaan yang semakin agresif.
Menurut Handry, lonjakan temuan terjadi karena pemerintah memperluas deteksi dini melalui skrining aktif. Tim medis langsung bergerak menyasar berbagai kelompok masyarakat di lapangan. Langkah ini terbukti efektif untuk membongkar fenomena gunung es yang selama ini tersembunyi.
”Jadi untuk jumlah kasus ini merupakan upaya jemput bola yang dilakukan melalui skrining secara aktif kepada kelompok diantaranya kepada ibu hamil, pekerja, dan kelompok yang masuk kategori berisiko tinggi,” kata Pasandaran.
Selanjutnya, beliau menjelaskan perbedaan strategi penanganan medis antara masa lalu dan masa kini. Dahulu, petugas kesehatan hanya menunggu pasien datang secara sukarela ke fasilitas kesehatan. Akibatnya, banyak pasien baru terdeteksi setelah kondisi tubuh mereka memburuk akibat infeksi lanjut.
Masa Inkubasi Virus dan Pencegahan ODHA di Sangihe
Kemudian, Handry juga mengingatkan masyarakat mengenai karakteristik bahaya dari virus tersebut. Masalah utamanya adalah masa inkubasi kuman yang memakan waktu sangat lama. Kondisi ini membuat penularan sering terjadi tanpa sengaja karena penderita merasa sehat.
”Perlu kita tau bahwa HIV ini tidak seperti penyakit infeksi lain yang gejalanya muncul dalam hitungan hari. Virus ini bisa berada dalam tubuh selama bertahun-tahun,” tambahnya.
Oleh sebab itu, Dinas Kesehatan meminta warga untuk berani memeriksakan diri secara berkala. Pemeriksaan lebih awal membantu pasien mendapatkan penanganan yang tepat secepat mungkin. Melalui langkah penanganan dini, kualitas hidup pasien akan tetap terjaga dengan baik.
Akhirnya, pemerintah sangat berharap agar masyarakat menghindari berbagai aktivitas yang menyimpang. Warga harus menjunjung tinggi nilai moral agar dapat menghentikan laju penularan penyakit. Cara terbaik untuk menjaga kesehatan adalah dengan menghindari hubungan yang melanggar norma agama.(Unk)













