Jakarta, TR – Mahasiswa Universitas Pertamina (UPER) berhasil menciptakan teknologi konstruksi AR untuk mengatasi masalah salah koordinasi pada pembangunan rumah tinggal. Tim Crystal merancang metode baru ini dengan menggabungkan konsep Augmented Reality (AR) dan Building Information Modeling (BIM) 5D. Inovasi digital bangunan tersebut sukses memenangkan juara pertama dalam kompetisi Civil National Expo (CNE) 2026 dengan menyisihkan 78 tim lainnya.
Sistem baru ini menyatukan semua data penting proyek ke dalam satu model digital, mulai dari desain hingga perkiraan biaya. Selanjutnya, pekerja memakai visualisasi augmented reality untuk melihat rancangan bangunan langsung di lokasi sebelum membangun fisik rumah. Oleh karena itu, pekerja lapangan bisa meminimalkan risiko kesalahan struktur atau pekerjaan ulang yang melelahkan.
”Teknologi ini membantu memastikan pekerjaan di lapangan tetap sesuai dengan desain sejak awal sehingga risiko kesalahan dan pekerjaan ulang dapat ditekan,” ujar Dimas Agim Jamiat, anggota Tim Crystal.
Tim mahasiswa menguji sistem canggih ini melalui simulasi pembangunan rumah tinggal berlantai tiga dengan nilai proyek sebesar Rp5 miliar. Hasil simulasi menunjukkan bahwa metode konstruksi augmented reality ini mampu menghemat anggaran belanja proyek sebesar 11 persen atau senilai Rp588 juta. Selain menghemat uang, inovasi digital bangunan ini juga memotong durasi kerja selama 41 hari dari rencana awal.
“Untuk optimalisasi pembangunan tersebut, kami menggunakan perangkat lunak Revit dan Navisworks kemudian melakukan sentralisasi data dalam satu perangkat lunak BIM, proses integrasi penentuan volume pekerjaan, penyusunan jadwal, dan estimasi biaya dilakukan secara lebih efisien dan terkoordinasi,” tambah Dimas.
Dukungan Penuh Kampus Universitas Pertamina
Keberhasilan luar biasa ini merupakan dampak nyata dari sistem pembelajaran berbasis proyek yang diterapkan di program studi Teknik Sipil UPER. Pihak dosen selalu mengarahkan mahasiswa untuk aktif membuat solusi bagi kendala nyata yang sedang dihadapi oleh sektor industri.
”Kami memfasilitasi mahasiswa untuk tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga mengembangkan solusi yang dapat menjawab kebutuhan industri. Melalui pendekatan berbasis proyek, mahasiswa didorong untuk mengeksplorasi teknologi konstruksi terkini sehingga mampu menghasilkan inovasi yang aplikatif, efisien, dan relevan dengan perkembangan dunia konstruksi,” jelas Dr. Vani Arliani, S.T., M.T. selaku dosen pembimbing.
Rektorat Universitas Pertamina berkomitmen penuh untuk terus memperbarui materi kuliah agar selalu sesuai dengan kemajuan zaman. Langkah strategis ini bertujuan agar lulusan kampus siap menghadapi perubahan gaya kerja baru di dunia profesional.
”Transformasi digital telah mengubah berbagai sektor, termasuk industri konstruksi. Karena itu, kami terus mengembangkan kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi agar mahasiswa tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang memberikan solusi nyata bagi masyarakat dan dunia industri,” pungkas Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., Pjs. Rektor Universitas Pertamina.(HUP)













