Manado, TeropongRakyat.com – Bisnis food truck semakin menjamur di berbagai kota besar Indonesia, termasuk Manado. Konsep usaha kuliner berbasis kendaraan ini dinilai lebih fleksibel, unik, serta mampu menjangkau segmen konsumen yang lebih luas dibandingkan restoran konvensional.
Dengan modal yang relatif terjangkau, food truck kini dipandang sebagai roda inovasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan mendukung pelaku usaha kecil.
Di kawasan Megamas, tepatnya di Sentra Kuliner Manado Bay, jajaran food truck menjadi daya tarik baru bagi warga lokal maupun wisatawan. Salah satunya adalah Kedai 14, food truck berbasis mobil VW Combi klasik asal Brazil, yang menyajikan beragam menu kopi, mie instan, hingga kudapan lokal.
Irfan, pemilik Kedai 14, menyebut konsep food truck mampu menghadirkan pengalaman baru bagi konsumen.
“Kedai 14 dengan konsep seperti ini mungkin merubah suasana dari kopi shop pada umumnya. Kalau biasanya orang datang ke kafe, kali ini kami yang hadir dengan konsep mobileling,” ujarnya.
Menurutnya, tren berjualan dengan mobil antik kini semakin populer di Sulawesi Utara. Selain menjadi nilai tambah untuk menarik perhatian, mobil klasik juga memperkuat identitas usaha.

“Kita punya mobil VW Combi Floswaiden dari Brazil, konsep ini memang lagi tren. Kita buat sesederhana mungkin agar sesuai dengan kebutuhan konsumen di kawasan Manado Bay,” jelasnya.
Menu kopi yang ditawarkan Kedai 14 relatif terjangkau, berkisar Rp15.000 hingga Rp30.000 per gelas. Beberapa menu andalan yang menjadi favorit konsumen adalah Kedai 14 Signature berbasis gula aren, Butter Scotch, Vanilla Latte, hingga Caramel Macchiato.
Selain menyajikan minuman, Kedai 14 juga berkolaborasi dengan pelaku UMKM lokal untuk memasarkan produk mereka, mulai dari kue basah hingga kue kering. Strategi ini bukan hanya memperkaya pilihan konsumen, tetapi juga membuka pasar baru bagi usaha kecil.
“Produk UMKM ini kita bantu pasarkan di food truck. Jadi konsepnya bukan hanya bisnis sendiri, tapi juga saling mendukung sesama pelaku usaha,” ungkap Ifan.
Dari sisi bisnis, performa Kedai 14 cukup menjanjikan. Rata-rata penjualan harian mencapai 200 cangkir kopi pada hari biasa, dan melonjak hingga 350 cangkir saat akhir pekan. Pendapatan pun diperkirakan berada di kisaran Rp2 juta per hari pada weekday, dan Rp3–4 juta saat weekend.
Food truck Kedai 14 beroperasi setiap hari mulai pukul 16.00 WITA hingga pukul 00.00, dan tutup lebih larut pada akhir pekan. Dengan modal awal sekitar Rp120 juta, termasuk biaya peralatan kopi dan mobil antik, usaha ini terbukti mampu menciptakan arus kas positif dalam waktu singkat.
Fenomena food truck di Manado menjadi gambaran bagaimana inovasi bisnis mampu menggerakkan sektor ekonomi kreatif. Lebih dari sekadar tren, food truck kini menjadi model usaha yang inklusif, menguntungkan, sekaligus mendukung ekosistem UMKM lokal.(OneMoro)













