Manado, TR – Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol DR Roycke Langie SIK MH menyampaikan pesan mendalam tentang esensi kemerdekaan. Pesan tersebut bergema saat Ibadah Minggu di GMIM Yarden Singkil, Kampung Islam, Manado, Minggu (16/08/2026).
Jenderal Bintang Dua ini berbaur bersama jemaat untuk memuliakan nama Tuhan menjelang HUT RI. Ia mengajak warga mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif.
Kapolda menekankan kemerdekaan sejati bermula dari hati dan pikiran. Ia mengingatkan warga untuk memerdekakan iman dari rasa curiga.
”Mari kita maknai bahwa kemerdekaan itu bukan sekadar terlepas dari belenggu duniawi, tetapi kemerdekaan itu harus kita isi. Kalau kita berbicara tentang kemerdekaan, ada satu proses panjang di dalamnya, salah satunya adalah kemerdekaan iman. Jika di antara kita kadang-kadang masih saling curiga, itu berarti hati kita belumlah merdeka sepenuhnya,” tegas Kapolda Sulut.
Kapolda memaparkan tiga indikator utama untuk menjaga wilayah tetap aman dan kondusif. Indikator pertama mencakup personal security atau keamanan individu saat beraktivitas di manapun.
Indikator kedua fokus pada infrastructure security untuk mencegah kecelakaan dan konflik sosial. Indikator ketiga menekankan digital security agar warga memverifikasi informasi di media sosial.
Irjen Pol Roycke memberi gambaran nyata tentang kecepatan penyebaran informasi di ponsel. Ia meminta masyarakat bijak dalam menggunakan aplikasi perpesanan.
”Coba Bapak/Ibu cek HP masing-masing. Rata-rata satu orang memiliki minimal 11 grup WhatsApp. Mulai dari grup kampung, alumni, hingga keluarga. Bayangkan jika di 11 grup itu masing-masing berisi 50 orang, betapa cepatnya informasi menyebar. Di situlah pentingnya kita menjaga digital security mulai dari jari dan diri kita masing-masing. Pikiran kita harus jernih dan bersih,” pesannya.
Ia merespons sedih perselisihan antarwarga yang sempat terjadi beberapa waktu lalu. Pertemuan warga dan ibadah harus menjadi momen baku dapa secara fisik maupun iman.
Menjadikan Keluarga Sekolah Iman
Kapolda menegaskan warga harus bersatu menjaga keamanan wilayah bersama polisi. Keluarga harus menjadi “Sekolah Iman” untuk mendidik anak-anak.
Ia mengambil analogi kisah Alkitab saat Tuhan Yesus berdoa di Taman Getsemani. Yesus mengingatkan murid-murid-Nya untuk senantiasa berjaga-jaga.
”Begitu pula dengan kita, mari kita saling menjaga wilayah kita. Sikap berjaga-jaga ini dimulai dari diri sendiri, lalu kita tularkan ke keluarga kita. Jika Bapak/Ibu melihat potensi gangguan atau hal yang mencurigakan di lingkungan sekitar, segera sampaikan kepada petugas, aparat desa, atau pihak berwenang,” tutup Kapolda.(Tim)













