Pelapor Maudy Manoppo Buka Suara soal Dugaan Penggelapan Rp 5,2 Miliar GMIM, Tunjukkan Bukti Percakapan

MANADO, TR – Kasus dugaan penggelapan dana Rp 5,2 miliar di lingkungan Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) terus menjadi perhatian publik.

Di tengah polemik yang berkembang, pelapor kasus tersebut, Maudy Manoppo, akhirnya buka suara di hadapan awak media, Sabtu (30/5/2026).

Maudy memberi penjelasan langsung untuk menjawab tudingan yang menyebut laporannya tidak berdasar dan ada pihak tertentu yang berada di belakangnya.

Ia menegaskan laporan yang masuk ke kepolisian bukan dibuat tanpa alasan. Menurut Maudy, ia menerima dokumen dan informasi dari pihak internal BPMS yang meminta dirinya menindaklanjuti persoalan tersebut.

Di hadapan wartawan, Maudy membantah pernyataan penasihat hukum Pendeta Adolf Wenas yang menyoroti posisinya sebagai pelapor.

Ia memastikan langkah hukum yang ditempuh murni berdasarkan data yang ia terima.

”Saya ingin klarifikasi tentang apa yang disampaikan oleh penasihat hukum Pendeta Adolf Wenas tentang posisi saya sebagai pelapor. Saya tidak ada di-backing oleh Ketua Sinode. Ini datanya, ini buktinya bahwa beliau yang menyampaikan semua dokumen untuk pelaporan dana 5,2 (miliar) itu,” ujar Maudy sambil menunjukkan bukti dokumen kepada awak media, Sabtu (30/5/2026).

Pernyataan itu langsung menarik perhatian karena Maudy turut memperlihatkan dokumen dan bukti percakapan yang disebut menjadi dasar pelaporan.

Maudy lalu menjelaskan kapan komunikasi itu terjadi.

Menurut dia, percakapan berlangsung pada 30 Januari 2026 saat pihak yang bersangkutan sedang berada di Merauke untuk mengikuti kegiatan PGI.

Dalam komunikasi itu, kata Maudy, dirinya diminta mengecek apakah dokumen yang ada cukup untuk menjadi bahan laporan polisi.

”Ini tanggal 30 Januari, waktu beliau ada di Merauke mengikuti acara PGI. Jadi dia sampaikan, coba tanyakan kalau data ini cukup untuk menjadi dokumen dalam rangka pembuatan laporan polisi kasus 5,2 (miliar) ini,” ungkap Maudy.

Maudy mengatakan masyarakat dan media bisa menilai sendiri fakta-fakta yang kini mulai terbuka ke publik.

Tak hanya satu orang, Maudy mengaku ada anggota BPMS lain yang juga menyerahkan dokumen kepadanya.

Hal itu ia sampaikan saat menjawab pertanyaan wartawan.

“Ini baru satu, baru dari beliau. Ada lagi satu anggota BPMS yang lain yang sampaikan ke saya. Apa mau sampaikan sekarang ya? Atau biar jadi rahasia dulu, biar ada penasaran sedikit. Paling tidak, mereka tahu bahwa laporan 5,2 itu diketahui oleh BPMS dan mereka yang memberikan dokumen-dokumen untuk dasar pelaporan ke kepolisian,” lanjutnya.

Pernyataan itu menambah sorotan terhadap kasus dugaan penggelapan Rp 5,2 miliar GMIM yang kini terus bergulir.

Saat dikonfirmasi apakah laporan itu muncul dari inisiatif pihak internal BPMS, Maudy membenarkannya.

Ia mengaku hanya merespons karena merasa persoalan tersebut berkaitan langsung dengan aset gereja.

“Ya sebenarnya saya hanya merespon inisiatif dari beliau justru. Karena apa yang beliau sampaikan sebenarnya bagus. ‘Ibu Maudy, kita harus berusaha bagaimana mengembalikan uang 5,2 milik GMIM’. Itu saja yang saya dengar, saya tindak lanjuti dan respon positif. Tapi kalau sekarang (dibantah), ya terserah beliau saja,” jelas Maudy.

Menurutnya, tujuan utama dari langkah yang diambil hanya satu, yakni mendukung upaya penyelamatan dana milik GMIM.

Minta Semua Pihak Jujur dan Terbuka

Di akhir keterangannya, Maudy meminta semua pihak yang terkait bisa berbicara terbuka.

Ia berharap persoalan tersebut bisa dibuka secara terang agar jemaat mengetahui fakta sebenarnya.

”Yang pasti saya mau sampaikan, Pak Pendeta Adolf Wenas bicara jujur jo, toh? Supaya ini kasus boleh terbuka, torang (kita) boleh bercerita baik-baik. Torang juga cuma jemaat biasa, cuma terpanggil untuk ikut mendukung pembenahan,” tuturnya.

Maudy juga mengingatkan pentingnya kejujuran dalam menyikapi persoalan yang sedang berjalan.

“Jujur itu yang paling penting. Masalah semua, termasuk pemalsuan itu, karena ketidakjujuran. Kita ndak mau bicara banyak, cuma jemaat biasa. Masa kita mau ajar itu pendeta untuk bicara jujur? Makasih,” pungkas Maudy.(Tim)