JAKARTA, TR – Keberhasilan pembangunan infrastruktur energi di Indonesia kini tidak lagi hanya bergantung pada kesiapan dana dan teknologi tinggi. Peneliti Universitas Pertamina (UPER) menegaskan bahwa pelibatan publik proyek energi merupakan faktor penentu yang sangat vital di lapangan.
Tanpa adanya partisipasi masyarakat yang kuat, proyek-proyek strategis tersebut justru berisiko menghadapi penolakan besar dari warga setempat.

Tim peneliti Ilmu Komunikasi UPER baru saja menyelesaikan kajian mendalam di Sulawesi Tengah, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Dr. Ir. Farah Mulyasari, S.T., M.Sc. memimpin penelitian ini untuk memetakan persepsi warga terhadap teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS).
Hasilnya, tim menemukan bahwa transparansi informasi menjadi pemicu utama masyarakat mau menerima kehadiran proyek baru di wilayah mereka.
Hambatan utama dalam implementasi teknologi bukan berasal dari kerumitan teknis alat tersebut. Sebaliknya, minimnya pelibatan publik proyek energi sejak tahap perencanaan seringkali memicu kekhawatiran terkait dampak lingkungan. Oleh karena itu, pemerintah dan pengembang wajib membangun komunikasi dua arah yang lebih terbuka agar masyarakat tidak merasa terpinggirkan.
Pentingnya Izin Sosial untuk Keberlanjutan
Dr. Farah menjelaskan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik budaya yang unik sehingga pendekatan komunikasi tidak bisa disamaratakan. Tokoh adat, media lokal, dan komunitas menjadi jembatan penting untuk membangun kepercayaan publik.
“Banyak proyek energi menghadapi hambatan bukan karena teknologinya, tetapi karena masyarakat tidak merasa dilibatkan sejak awal,” ungkap Dr. Farah dalam laporannya.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., turut menambahkan bahwa riset ini memperkuat peran kampus dalam mendukung transisi energi yang inklusif. Menurutnya, pengembangan teknologi harus selalu berjalan beriringan dengan pendekatan sosial. Dengan demikian, pelibatan publik proyek energi akan menciptakan “izin sosial” yang membuat masyarakat merasa memiliki proyek tersebut sebagai kebutuhan bersama.(Tim)













