JAKARTA, TR – Pesatnya urbanisasi di Indonesia menghadirkan tantangan serius pada sektor sanitasi perkotaan, khususnya di kawasan padat penduduk dan pesisir. Di tengah persoalan ini, perempuan kerap menjadi kelompok paling terdampak, namun justru minim dilibatkan dalam perencanaan infrastruktur kota.
Pakar sanitasi Universitas Pertamina, Dr. Evi Siti Sofiyah, menegaskan bahwa sanitasi bukan sekadar isu teknis, melainkan persoalan sosial yang erat kaitannya dengan aspek gender.
“Pembangunan infrastruktur kota perlu memperhatikan kebutuhan spesifik perempuan. Aspek keamanan di ruang publik serta privasi bagi kesehatan reproduksi adalah hal krusial agar layanan sanitasi benar-benar inklusif,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2023) menunjukkan 13,84 persen rumah tangga di Indonesia masih bergantung pada fasilitas sanitasi bersama. Sayangnya, banyak fasilitas publik belum dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan perempuan, sehingga meningkatkan risiko terhadap keamanan, privasi, dan kesehatan terutama saat terjadi banjir.
Berangkat dari kondisi tersebut, Dr. Evi memimpin riset kolaboratif lintas perguruan tinggi di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, wilayah pesisir yang kerap terdampak banjir rob. Penelitian yang melibatkan 400 responden laki-laki dan perempuan ini menggunakan pendekatan Importance–Performance Analysis (IPA) untuk mengukur kesenjangan antara kebutuhan warga dan kinerja layanan sanitasi.
Hasil riset mengungkap adanya gender gap yang signifikan. Perempuan menilai aspek keamanan, privasi, dan keberlanjutan fungsi fasilitas saat banjir sebagai kebutuhan sangat penting, namun kinerja infrastruktur yang tersedia dinilai belum memadai. Minimnya pelibatan perempuan dalam proses perencanaan kota memperlebar ketimpangan tersebut.
“Ada paradoks menarik. Perempuan adalah kelompok paling tidak puas terhadap layanan sanitasi, namun juga paling tinggi minatnya untuk terlibat dalam perbaikan. Artinya, perempuan bukan sekadar terdampak, tetapi aktor kunci dalam memperkuat ketahanan sanitasi perkotaan,” jelas Dr. Evi.
Kontribusi ilmiah ini mendapat pengakuan internasional melalui publikasi di jurnal bereputasi Health & Place (Elsevier, 2025). Penelitian tersebut juga selaras dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak serta Tujuan 5 tentang Kesetaraan Gender.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., menyampaikan bahwa capaian ini mencerminkan komitmen kampus dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan bagi tantangan keberlanjutan.
“UPER tidak hanya berfokus pada publikasi internasional, tetapi juga solusi nyata bagi masyarakat. Komitmen ini selaras dengan kurikulum berbasis keberlanjutan, termasuk peminatan Infrastruktur Lingkungan dan Energi Berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui riset ini, Universitas Pertamina menegaskan bahwa perencanaan sanitasi yang netral gender sudah tidak lagi memadai. Kota yang tangguh dan berkelanjutan hanya dapat terwujud ketika pengalaman dan perspektif perempuan diintegrasikan secara sadar dalam kebijakan publik.(RL/HUP)













