JAKARTA, TR – Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) secara resmi memulai pembahasan teknis mengenai Anggaran Kementerian ATR BPN 2027. Langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat perencanaan keuangan pertanahan di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang keluar memberikan manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Sekretaris Jenderal ATR/BPN, Dalu Agung Darmawan, memimpin langsung rapat koordinasi terkait Klasifikasi Rincian Output (KRO) dan Rincian Output (RO) secara daring pada Senin (06/04/2026). Beliau menekankan bahwa efisiensi menjadi kunci utama dalam penyusunan dana kerja BPN untuk periode mendatang tersebut. Selain itu, negara menuntut setiap unit kerja untuk menghasilkan pelayanan publik yang tetap prima tanpa terpengaruh kondisi geopolitik dunia.
“Terkait pembahasan KRO dan RO, berkaitan dengan kondisi ekonomi negara kita, kita harus betul-betul efisien, memberikan output yang besar kepada masyarakat, sebagaimana tugas kita dalam memberikan pelayanan. Agar kualitas layanan tidak terganggu,” ujar Dalu Agung Darmawan saat membuka agenda tersebut.
Rapat intensif ini akan berlangsung secara berkelanjutan hingga 13 April 2026 dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan pusat. Dalu Agung Darmawan menginstruksikan seluruh jajaran agar menyelaraskan Anggaran Kementerian ATR BPN 2027 dengan realitas pelaksanaan di lapangan. Oleh karena itu, kerangka acuan kerja harus memiliki logika pembiayaan yang tertib dan masuk akal agar akuntabilitas tetap terjaga.
Selanjutnya, kementerian akan mengkaji ulang setiap kegiatan yang menunjukkan ketidakseimbangan antara progres fisik dan penyerapan dana. Hal ini sangat penting untuk menghasilkan struktur alokasi biaya pelayanan yang lebih realistis dan transparan. Implementasi kebijakan baru ini harapannya mampu menghilangkan keraguan dalam eksekusi program di masa depan.
Modernisasi Nomenklatur Pelayanan
Dalam kesempatan yang sama, Plt. Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama, Andi Tenri Abeng, memberikan laporan hasil evaluasi internal. Ia menyebutkan bahwa banyak struktur output sejak tahun 2025 sudah tidak relevan atau kedaluwarsa dengan kebutuhan saat ini. Oleh sebab itu, perubahan struktur penganggaran menjadi hal yang mendesak untuk dilakukan segera.
“With pembahasan ini, kami yakini ini berpotensi mengalami perubahan terhadap struktur yang selama ini kita lakukan. Harapannya, perubahan ini akan diterapkan di penganggaran 2027 mendatang kita sadar secara detail tanpa ada keragu-raguan,” pungkas Andi Tenri Abeng.(ATR/BPN)













