TeropongRakyat.com – Negeri ini kerap digambarkan sebagai tanah gemah ripah loh jinawi, negeri yang subur, makmur, dan menjanjikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Namun di balik narasi indah itu, terselip ironi panjang yang tak pernah benar-benar usai. Sebuah potret getir tentang bangsa bernama Konoha.
Di Konoha, rakyat diajarkan untuk hidup mandiri. Sampah dibuang sendiri, diolah sendiri, diselesaikan sendiri namun tetap dipajaki. Rakyat bekerja sendiri, mencari makan sendiri, berkarya sendiri, bahkan bertahan hidup sendiri. Ironisnya, ketika semua dilakukan tanpa legitimasi kekuasaan, rakyat justru dipelototi, dibidik pasal-pasal pelanggaran, dan diawasi dengan kecurigaan.
Anggaran yang seharusnya menjadi denyut nadi kesejahteraan rakyat perlahan dikebiri. Suara kritis dibatasi ruang geraknya. Narasi yang terlalu keras dianggap ancaman, lalu ditangkapi. Namun di layar kamera, negeri ini tetap tampak sejahtera tersenyum rapi dalam dokumentasi seremonial.
Bencana alam datang silih berganti. Bantuan mengalir dari berbagai penjuru, dari empati publik hingga solidaritas kemanusiaan. Tetapi tak sedikit yang kemudian menguap di lorong-lorong gelap korupsi. Jika bantuan bencana saja bisa dikorupsi, apalagi proyek-proyek besar yang nyaris tak terdeteksi pengawasan publik.
Sementara itu, rakyat menganggur, berjuang melawan lapar dan dahaga. Di sisi lain, pejabat hidup makmur, berselimut puji syukur, dikelilingi sekelompok pencukur anggaran yang lihai merapikan laporan, bukan kenyataan.
“Aku bangga jadi warga Konoha,” tulis Meneer Sam Sianata dalam refleksinya. Sebuah kebanggaan yang getir bangga pada negeri yang seolah jaya dalam kamera, seolah makmur di tengah kehancuran. Bangga, sambil menahan tawa pahit, lapar, dan dahaga.
Inilah Konoha, bung.
Negeri tempat segalanya cukup diwakilkan.
Kekayaan diwakilkan.
Kesejahteraan diwakilkan.
Kenyamanan diwakilkan.
Rakyat cukup diwakilkan bahkan kesedihannya pun diwakilkan.
“Hahahahaha… mungkin saja aku mulai gila,” tulisnya lagi, “mewakilkan kesedihan rakyat Konoha.
Sebuah satire, namun terasa terlalu nyata.
Sebuah tawa, namun menyimpan luka yang dalam.
Denpasar Bali, 17 Desember 2025.
Penulis: Menner Sam Sianata
Editor : MarOne Dias













